Kamis, 01 Januari 2015

Point 6: Air suci Perwitosari

Point 6: Air suci Perwitosari

OPINI | 08 November 2013 | 12:42
Lingkaran pelajaran: Rahsa

Rasa demi rasa telah dipergilirkan, satu demi satu.
Setiap diri yang ditimpa rasa mengalami badai rasa yang memabukkan.
Akan diulang dan diulang, menjadi sebuah pelajaran.
Agar setiap diri mau kembali. Agar mau kembali kepada Tuhannya.
Agar mau menyadari hakekat keberadaan diri di muka bumi ini.
Catatan ini sebetulnya hanya menceritakan tentang satu hal saja, yaitu: Khusyu’berkisah tentang bermacam-macam rasa,
yang ke semuanya mengarah ke satu hal saja, yaitu Khusyu’.
Apakah khusyu’?. Bisa dijelaskan banyak hal, meliputi banyak sekali,
namun intinya saja:

Yaitu orang yang “meyakini” bertemu Tuhan. Kesadaran sedang berhadapan dengan Tuhan.
Sedang menghadapkan wajah (kesadaran) nya ke “wajah” Tuhan.
Atau disebut dengan Ihsan.

Orang yang khusyu’ adalah orang yang ber-ihsan.
Meyakini pertemuan dengan Tuhan tidak saja nanti
di hari akhir, tetapi juga disini, di saat ini.
Catatan ini menceritakan perbedaan rasa orang yang khusyu’ dan orang yang tidak khusyu’.
Yaitu orang yang silatun kepada Allah dan
orang yang sebaliknya.
Bagaimana mengenali rasanya orang yang silatun dan bagaimana rasanya orang tidak.
Sangat sederhana dan sedemikian sederhananya untuk menjadi tenang, menjadi bahagia, yaitu dengan khusyu’.
Membedakan rasa, ya memang itu saja, yaitu bagaimana membedakan kedua rasa ini.
Pertama tentu saja dengan mengamati dan mengenali.
Maka proses pengenalan menjadi sangat penting.
Semakin mengenal maka akan semakin menguatkan Sang Pembeda.
Akan membangkitkan sang pembeda. Yaitu Bashiroh.
Yaitu sesuatu dalam diri yang mampu membedakan baik dan buruk.
Kemudian meningkatkan kepekaan dan ketajaman rasanya.
Sebetulnya setiap diri kita telah sangat sering mengenal dan sering pula menggunakan, namun biasanya hanya digunakan pada salah satu sisi.
Kita dengan mudahnya mengatakan atau membedakan:
Bahwa saya tidak khusyu’. Namun kita tidak pernah kenal yang khusyu’ itu yang bagaimana.
Kita sering dengan mudah membedakan emosi jiwa dan mengatakan, saya tidak bahagia,
namun kita tidak mengenal seperti apa bahagia itu.
Kita dengan mudah mengatakan atau mengenal saya gelisah dan cemas,
namun sangat sulit mengenal rasa tenang, dan damai.
Kita dengan mudah mengenal rasa marah kecewa dan dendam.
Namun sangat sulit mengenal shabar, tawakal dan maaf.
Begitulah, sangat sering hanya mengenal satu sisi saja.
maka perlu latihan demi latihan untuk meningkatkan kualitas kepekaan sang pembeda
atau kemampuan membedakannya
yaitu dengan membangun kahyangan
maka dengan sendirinya sang pembeda mampu mengenal semua rasa dengan mudah
padahal banyak sisi yang lain juga sering kita rasakan,
misalnya ketenangan, kegembiraan, kebahagiaan, kedamaian, keindahan,
puas, ridho dan ikhlas, namun biasanya rasa-rasa ini hanya melintas sekilas dan lenyap dengan segera
Rasa khusyu’ ini akan membuat semua rasa ini menetap seterusnya dalam jiwa,
setiap ada rasa khusyu’ maka rasa-rasa di atas
akan mampu dimasuki dengan segera,
karena ke semua rasa ini telah menjadi sebuah rasa yang akan siap dimasuki kapan saja kita mau.
Maka proses perjalanan ruhani atau penyucian jiwa ini adalah membangkitkan sang pembeda,
yang akan mengenal segala rasa
lalu akan mudah membedakan mana jalan kebaikan
dan jalan keburukan dan dengan menggunakan daya dari Tuhan
untuk mengikuti jalan kebaikan, ya … dengan daya dorong dari dalam
bukan menggunakan kekuatan diri tetapi menggunakan daya langsung dari ruh (daya hidup)
sehingga proses yang dilakukan adalah merupakan proses alami
selanjutnya semua ritual ibadah akan merupakan kegiatan yang sangat alamiah
seperti halnya makan, minum dan bernafas, yang akan dilakukan secara otomatis dan ringan.
Ketika rasa khusu ini hadir setiap saat, maka ketenangan, kedamaian, kebahagian yang sejati akan menetap
dan berada dalam jiwa terus, rasa yang akan teramati sangat lama.
Selain itu rasa ini akan meningkat sedikit demi sedikit
seumpama candu yang memabukkan
sehingga membetot jiwa untuk kembali merasakan ini
semua agama mengenal tentang air suci dan mensucikan
semua agama menggunakan media air untuk menyucikan jiwa
menyucikan raga dan proses memasuki alam ruhani
Islam juga menceritakan perjalanan nabi Khidir mencari perbatasan dua samudra
juga menceritakan air suci yang ditemukan Siti Hajar
juga menceritakan air yang muncul saat Nabi Isa dilahirkan
serta menceritakan air yang menyembuhkan sakit Nabi Ayub
juga Islam menggunakan air untuk berwudhu untuk mensucikan jiwa
dan menggunakan air zam-zam sebagai media penyucian jiwa
Kisah pewayangan Sang Bima mencari air suci perwitasari
yang berada di pusat samudra menggambarkan proses penyucian jiwa
Menemukan air suci yang menghidupkan jiwa
air itu berada di antara gaib dan nyata
berada antara ada dan tiada
seolah mendadak muncul sebagai mata air
dan air ini bisa muncul di dasar jiwa
dan dengan air ini akan menghidupkan hati yang kering dan mati
dan air inilah yang akan mencuci darah dan daging…
Dimanakah air suci ini?
Dan sucikanlah jiwa kita. semoga kita mampu menemukan air suci ini

Tidak ada komentar: